Kunjungi MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif, Kasubdit Kesiswaan Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI Ajak Kembalikan Ruh Madrasah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Kab. Jombang (MAN 4) – Dr. Imam Bukhori, M.Pd., Kepala Sub Bagian (Kasubdit) Kesiswaan Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kemenag RI melakukan kunjungan dan pembinaan kepada guru dan karyawan MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif pada Sabtu (8/4/23).

Dalam Kunjungannya, Imam Bukhori yang juga alumni dari MAN 4 Jombang jurusan IPS tahun 1993 ini mengajak para guru untuk mengembalikan ruh madrasah dalam kaitannya dengan implementasi kurikulum merdeka.

Menurutnya, kurikulum merdeka sangat sesuai jika diterapkan dalam kondisi pembelajaran pasca pandemi seperti saat ini. Kurikulum merdeka mengenal konsep diferensiasi yang dinilai sejalan dengan ajaran di pesantren, yakni sorogan.

“Madrasah merupakan sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Dalam madrasah, harus ada nilai ajaran agama Islam yang mewarnai cara berpikir, bentidak warga madrasah, baik guru maupun siswa. Lalu, kekhasan apa yang membedakan sekolah dengan madrasah?” ucapnya.

Kekhasan madrasah selanjutnya dijabarkan dalam 5 pokok bahasan, yakni perspektif ibadah berdimensi ukhrawi, hubungan guru-murid diikat dengan mahabbah fillah, pandangan ‘ainir rahmah, Hati sebagai sasaran utama pendidikan, dan akhlak di atas ilmu pengetahuan.

 

  1. Perspektif ibadah berdimensi ukhrawi

“Pembelajaran di madrasah, apalagi yang di dalam pondok seperti MAN 4 Jombang semuanya harus dipandang dalam perspektif ibadah yang berdimensi ukhrowi.” ucapnya

Ia menjelaskan, apapun yang dilakukan dalam proses pendidikan harus diyakini sebagai perilaku ibadah yang mendapat pahala dan balasan di akhirat.

“Tolong jangan pisahkan antara ngajar  dengan ibadah, ibadahae guru yo ngajar.” ungkapnya.

Mengajar adalah aktifitas ibadah seorang guru. Sehingga semua aktifitas yang dilakukan di madrasah maka akan punya dampak dan mendapat balasan di akhirat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa semua urusan dunia hendaknya diniatkan untuk akhirat.

“Tugas kita adalah bagaimana menurunkan nilai-nilai ukhrowi dalam dunia pendidikan. Apapun urusan dunianya, niatkan untuk akhirat. Misal kita mau bal-balan. Diniati mengembalikankebugaran dan ngilangi stres, agar ngajine fresh, ibadahe luwih apik.” terangnya.

Cara berpikir ukhrorwi inilah yang perlu ditanamkan di madrasah.

“Cara berpikir ukhrowi inilah yang nyaris hilang dalam dunia pendidikan kita. Tugas kita untuk mengembalikan ruh madrasah, cara pandang ukhrowi, yang tidak memisahkan antara dunia dan akhirat.” jelasnya.

 

  1. Hubungan guru-murid diikat dengan mahabbah fillah

Hubungan guru dengan murid dalam perspektif pendidikan Islam terikat dalam hubungan kasih sayang yang sama-sama bertujuan menuju ridho Allah SWT.

“Guru butuh murid untuk mengamalkan ilmunya, murid butuh guru untuk meningkatkan kapasitas kemampuannya. Hubungannya saling menguntungkan. Sama-sama untuk menjadi orang baik dan mencapai ridho Allah. Sehingga memunculkan amal sholih, yakni ta’lim wa ta’allum, proses belajar mengajar.” terangnya.

Melalui hubungan seperti ini, lanjutnya, antara guru dan murid bisa saling memberi manfaat kelak di akhirat. Guru bisa menolong muridnya di akhirat, sebaliknya murid juga bisa menolong gurunya di akhirat.

“Jadi Bapak Ibu guru, jika melakukan kegiatan di madrasah, di kelas, itu tidak hanya urusan duniawi semata. Tapi tembus sampai di akhirat dan bisa saling mempengaruhi.” ungkapnya.

 

  1. Pandangan ‘ainir rahmah

Cara pandang guru kepada siswa dengan pandangan kasih sayang. Guru bisa memiliki pandangan kasih sayang jika yang dipandang dari diri siswa itu bukan siswanya, tetapi siapa di balik siswa itu.

“Misal kita menghadapi anak yang bandel. Yang kita pandang bukan kenakalan anak itu, tapi siapa dibalik dia yang menggerakkan kenakalan anak tersebut, yaitu Allah.” ungkapnya.

Ia pun melanjutkan, bisa jadi anak yang dihadapkan kepada guru sengaja dikirim Allah untuk menguji kesabaran dan kompetensi guru, yang bertujuan untuk meningkatkan derajat seorang guru.

“Yang dilihat adalah siapa yang menggerakkan anak itu. Ini yang dimaksud dengan bertauhid di dalam pendidikan. Tauhid adalah, semua hal dipandang adalah Allah SWT.” terangnya.

 

  1. Hati sebagai sasaran utama pendidikan

Menurut Imam, pendidikan adalah urusan hati. Ketika hati anak terganggu dan tertutup dengan gurunya  maka akan sulit mendapatkan ilmu yang manfaat. Tertutupnya hati siswa, lanjutnya, bisa dari dua hal. Pertama karena kecewa telah dihukum yang keteraluan, sehingga siswa tidak bisa menerima kehadiran guru. Kedua, hilangnya kepercayaan terhadap gurunya karena murid mengetahui aib gurunya.

“Misal murid tahu gurunya selingkuh. Maka apapun yang akan diucapkan oleh gurunya, tidak akan masuk dalam hati anak. Hati anak tidak tersentuh. Ketika itulah, susah sekali ilmu yang manfaat bisa masuk tembus dalam hati anak-anak kita. Hati anak harus kita jaga. Kita bangun agar tetap suci. Sehingga hubungan guru dengan murid tetap terjalin baik. Hati adalah sasaran utama dalam pendidikan.” terangnya.

 

  1. Akhlak di atas ilmu pengetahuan

Imam Bukhori mengutip perkataan Imam Ghozali yang menyarankan agar menempatkan akhlak diatas pengetahuan .

” ilmu atau kepintaran, kalau berada pada orang yang akhlaknya buruk, maka ilmunya justru berpotensi merusak. Dan kerusakannya akan lebih dahsyat daripada orang yg biasa-biasa saja.” ungkapnya.

Jika ditarik dalam dunia pendidikan Islam, maka akhlak adalah segalanya. Akhlak diposisikan lebih utama dari pada ilmu.

“Dan Akhlak inilah yang menjadikan ilmu itu bisa manfaat. Berkah dalam kehidupannya dan bisa mengantarkan anak untuk siap dalam menghadapi tantangan apapun.” jelasnya.

Di akhir penjelasannya, imam mengajak seluruh guru dan karyawan MAN 4 jombang untuk mensinergikan doa.

“Budayakan sinergi doa. Guru matihahi murid dan wali murid. Murid matihahi guru dan wali murid. Wali murid matihahi anaknya dan gurunya.” ajaknya.

Imam pun berharap, nilai-nilai madrasah ini bisa mewarnai dalam implementasi kurikulum merdeka.

“Kami berharap dunia pendidikan kita mulai mengarah kepada dunia pendidikan yang tidak lagi memisahkan antara kepentingan duniawi dengan ukhrowi. Bahkan melupakan kepentingan ukhrowi itu sendiri. Mari dengan semangat kurmer ini kita terapkan ruh madrasah dalam mewarnai semua hal.” pungkas Imam. (hiy)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *