Ngaji Rutin MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif: 10 Sebab Doa Sulit Terkabul

Kab. Jombang (MAN 4) – Pengajian rutin bagi guru dan karyawan MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif kembali digelar pada Minggu (01/10/23) di Gedung KH. Hasyim Asy’ari MAN 4 Jombang. Pengajian diisi oleh KH. Wazir Ali Lc selaku pengasuh Asrama Sunan Ampel PP. Mamba’ul Ma’arif.

KH. Wazir Ali menerangkan tentang hadits ke-10 dalam Kitab Majalisussaniyyah tentang pengaruh makanan halal terhadap terkabulnya doa.

Diceritakan bahwa seorang sufi (ahli tasawuf) bernama Ibrahim bin Adham sedang berjalan di pasar Basrah, sehingga orang-orang mulai berkumpul dan mengajukan pertanyaan.

“Syaikh saya berkali-kali berdoa, tapi fala yustajabu, kok tidak kunjung diijabahi ya syaikh, apa kira-kira penyebabnya. Dijawab oleh syaikh, lianna qulubakum mata. Hatimu telah mati.”

Lalu Ibrahim bin Adham menjelaskan tentang 10 penyebab doa tidak dikabulkan:

  1. Kamu mengenal Allah tapi tidak melaksanakan hak-Nya

“Kamu mengenal Allah tapi tidak menjalankan ibadah kepada-Nya, atau ibadahmu kurang serius” jelas KH. Wazir Ali

  1. Kamu mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tapi tidak melaksanakan sunnahnya.

“Kamu bilang cinta Rasul, tapi jejak lampahe Rasulullah ga pernah diikuti. Gak tau dhuha, gak tau tahajjud, gak tau silaturrahim.” terangnya.

  1. Tiap hari kamu membaca Alquran, tapi tidak pernah mengamalkan

“Kamu baca tok, tapi tidak paham isine Alquran sehingga tidak bisa mengamalkan secara sungguh-sungguh.” terang KH. Wazir

  1. Kalian setiap hari mendapat nikmat Allah, tapi tidak bersyukur

“Allah beri rizki yang banyak kepadamu, tapi syukure kurang, atau bahkan tidak pernah syukur.” kata KH. Wazir

  1. Kamu bilang setan adalah musuh, tapi sering berjalan dengannya.
  2. Kamu bilang surga adalah nyata, tapi tidak pernah beramal untuk mendapatkannya

 

  1. Kamu katakan neraka itu nyata, tapi tidak pernah menghindar darinya

 

  1. Katanya mati itu nyata, tapi tidak pernah menyiapkan bekal kematian

 

Jaremu mati iku nyoto, tapi kamu tidak pernah isti’dat lil maut. Tidak pernah menyiapkan bekal kematianmu.”

 

  1. Kamu hampir tiap hari bangun dari tidur, dan langsung sibuk dengan aib orang lain.

 

  1. Kamu mengubur orang mati, tapi tidak pernah mengambil pelajaran dari peristiwa itu

Ga pernah angen-angen kapan yo matiku. Kamu takziyah tapi jangongan tok, ga ikut menyolati. Itu berarti apa yang kamu lakukan hanya sekedar toleransi adat, ora ngamalkno agomo.” pungkas KH. Wazir Ali. (hiy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *