Peringatan Isra’ Mi’raj 1445 H: MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif Gelar Kajian Kitab Dardir Mi’roj

Kab. Jombang (MAN 4) – Memperingati Isra’ Mi’raj 1445 H, MAN 4 Jombang menggelar Kajian Kitab Dardir Mi’roj di Gedung K.H. Hasyim Asy’ari dengan Narasumber K.H. Muhammad Ali Khidzir, Ahad (4/1/2024). Acara yang bertema “Implementasi Nilai-Nilai Akhlak Rasululloh SAW di Tengah Terpaan Digitalisasi” ini dihadiri seluruh siswa dan civitas akademika MAN 4 Jombang.

Acara dibuka oleh Grup al Banjari MANPK MAN 4 Jombang dengan membaca sholawat dan mahalul qiyam serta dilanjutkan dengan sambutan Kepala Madrasah dan pengajian Kitab Dardir Mi’roj.

Dalam sambutannya, Moh. Ilyas selaku kepala MAN 4 Jombang memberi amanah kepada seluruh peserta didik agar menjaga sholatnya. “hikmah yang paling utama dari Isra’ Mi’raj adalah sholat. Dari sisi fadhilah, Barangsiapa yang sholatnya baik, maka amal lain akan dianggap baik. Dan barangsiapa yang sholatnya banyak lubangnya, maka amal yang lain juga fasad”, tutur Moh. Ilyas.

Sementara itu, dalam suasana yang berjalan khidmat dan penuh spiritualitas, K.H. M. Ali Khidzir selaku narasumber menyampaikan peran Nabi Muhammad SAW, “Kanjeng Nabi itu al insan al kamil. Manusia yang Allah ciptakan sempurna bisa mengambil semua peran”, kata K.H. Ali Khidzir dalam pembuka materinya.

“Seorang pedagang yang ingin menjadikan kanjeng nabi panutan dalam berdagang, maka nabi bisa ia jadikan contohnya. Seorang pejabat yang ingin melihat kanjeng nabi sebagai panutan, maka dia juga bisa melihat sejarah nabi sebagai panutan. Selain itu, komandan perang, kepala rumah tangga, humanis, orang yang fakir, bahkan orang kaya, semuanya bisa menjadikan nabi inspirasinya”, terang K.H. Ali.

Beliau juga menambahkan, “Isra’ mi’raj itu itu kejadiannya menabrak hukum alam. Jadi dalam Agama Islam kita harus memenuhi logika akal dan logika iman. Isra’ Mi’raj itu masuk logika iman”, imbuhnya.

Terakhir, K.H. Ali Khidzir berpesan kepada semua siswa MAN 4 Jombang agar ilmu umume ditenani sak estu. Tapi juga ampun lali ngajine maksudnya adalah ilmu umum harus ditekuni tapi jangan lupa dengan ngajinya.

“Kalian anak-anak santri yang sekolah di MAN 4, ilmu umume ditenani sak estu. Tapi juga ampun lali ngajine. Menurut Imam Ghazali ilmu itu dibagi ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah. Ilmu fardhu ain contohnya ilmu tentang sholat atau akidah. Kalau ilmu fardhu kifayah itu ilmu apapun yang bermanfaat bagi umat Islam seperti kesehatan. Nah itu juga harus diambil peran oleh santri”, tutup K.H. Ali. (hir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *