Pesan Toleransi Dari Negeri Moderasi

Membincang toleransi dan moderasi di Indonesia tidak ada akhirnya. Keduanya telah menyatu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah bngsa yang homogen ini. Tantangan demi tantangan kehidupan beragama seperti kejadian yang memicu radikalisme dan kekerasan yang mengatasnamakan agama ikut serta menghantui kondisi sekarang. Melalui wawancara eksklusif berikut ini, tim jurnalistik MAN 4 Jombang berbincang dengan salah satu putra pengasuh Asrama Almadienah.

“Toleransi adalah mundur selangkah demi mencapai hubungan harmonis, tetapi tidak mengorbankan prinsip.”

Itulah pesan penting yag kerap disampaikan oleh Agus Fahrur Rizal Haq, salah satu wakil pengasuh pondok pesantren Al-Madienah yang berlokasi di sebelah barat MAN 4 Jombang. Kyai muda yang kerap di sapa “Gus Fafa” ini menyikapi persoalan moderasi beragama dari kacamata pesantren. Menurutnya, toleransi dalam Islam adalah otentikyang artinya sudah tidak asing lagi dan bahkan meng-eksistensi sejak Islam itu berada. Karena sifatnya yang organic, maka toleransi didalam Islam hanyalah persoalan implementasi dan komitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten. Namun toleransi beragama dalam Islam bukanlah untuk saling bertukar keyakinan diantara kelompok kelompok agama yang berbeda.

Toleransi itu sendiri dalam agama Islam telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Menerima bukan berarti setuju dengan keyakinannya, bukan pula kita tidak menghargai, akan tetapi toleransi itu ada batas-batas dan norma-normanya. Toleransi disini adalah pengertian muamalah atau interaksi sosial, jadi batas-batas bersama yang tidak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi dimana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinannya atau hak-haknya.

Tidak dibenarkan bertoleransi dalam hal Aqidah, semisal mengikuti atau mengucapkan hal-hal yang berbau keyakinan. Apalagi di Indonesia ini adalah Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, maka tidak diperbolehkan memaksa dan mengancam penduduk agama lain untuk mengucapkan hal-hal yang sama.

“Kecuali kita berada dalam negara yang minoritas Islam, jadi keselamatan nyawa itu lebih utama” tegasnya.

Ia menegaskan paparannya secara rinci tentang membumikan toleransi itu sendiri di berbagai situasi saat ini. Pertama, melaksanakan ajaran agama yang dianutnya dengan benar. Kedua, menghormati agama yang diyakini orang lain. Ketiga, tidak memaksakan keyakinan agama yang dianutnya kepada orang lain.

Sesuai ayat Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 256

لَاۤ اِكۡرَاهَ فِى الدِّيۡنِ‌ۙ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَىِّ‌ۚ فَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَيُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا‌‌ ؕ وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ

yang artinya : tidak ada paksaan dalam beragama. Keempat, menghormati terhadap pelaksanaan ibadah yang dianut agama lain. (Qs. Al-Baqarah ayat 256)

Syariat telah menjamin bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, karena memaksa kehendak orang lain dalam beragama adalah sikap A historis yang tidak ada dasar dan contohnya. Dengan sikap toleran yang sangat indah inilah, sejarah peradapan Islam telah menghasilkan kegemilangan, sehingga dicatat dengan tinta emas oleh peradapan dunia hingga hari ini dan masa yang akan dating. “menyeleweng” tapi demi mencapai yang jauh lebih baik dan tetap tidak mengorbankan prinsip. Bahkan Islam oleh Nabi dinamai Al-Hanafiyah Al-Samhah, yaitu ajaran yang lurus tapi penuh toleransi.

“ sebagai santri, berprilaku baik terhadap kehidupan beragama dengan banyaknya keberagaman tidak hanya dilakukan dilingkungan keluarga atau sekolah, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Hal inilah yang menjadi dasar hidup saling berdampingan dalam kehidupan berbangsa,” ungkap Gus Fafa.

Gus Fafa juga menyampaikan paparannya dengan kiprah Pondok Pesantren dalam emmbumikan toleransi. Keragaman Pondok Pesantren di Indonesia ada ciri khusus yang mengidentifikasi “Apakah bangunan Pendidikan Islam itu termasuk kategori pesantren atau bukan?” tungkasnya.ciri pertama, yaitu bahwa setiap pondok dalam mengembangkan Islam selalu mengajarkna paham Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Jika ada pondok yang mengabaikan sikap tersebut, berarti telah mengabaikan ajaran subtantif pondok pesantren itu sendiri. Tasamuh atau toleransi ini menyandarkan pada satu sikap sama-sama berlaku baik, lemah lembut, dan saling pemaaf. Dalam makna yang umum, tasamuh adalah “sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, yakni terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan ajaran Islam.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *