Santri Sebagai Penghalang Radikalisme di Era Globalisasi

oleh: SITI AULIA RAMADHANA

 

Indonesia merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Jadi masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan keberadaan santri dan pondok. Sehingga jutaan santri telah tersebar luas di lembaga pendidikan agama Islam atau pondok pesantren yang ada di Indonesia.

Sekilas tentang Santri dan Pondok Pesantren, Santri adalah sebutan atau julukan bagi seseorang yang menempuh pendidikan agama Islam atau belajar agama Islam di pondok pesantren, dan menjadi santri juga berarti orang yang sedang melakuakukan atau menjalani ibadah dengan keikhlasan hati. Sedangkan Pondok Pesantren adalah sebuah asrama pendidikan agama Islam dimana semua santri tinggal bersama setra berbaur menjadi satu di bawah bimbingan atau asuhan seorang guru, ustadz atau ustadzah, dan kyai atau bu nyai. Dan dengan banyak macam kegiatan atau aktivitas yang dapat diperoleh seorang santri di dalam pondok pesantren yang merujuk untuk bisa dalam mempelajari ilmu agama Islam serta penerapannya terhadap masyarakat maupun terhadap negara Indonesia sendiri.

Di era globalisasi saat ini, radikalisme merupakan isu yang sedang di perbincangkan di Indonesia. Ideologi tentang berbagai macam landasan fikir untuk melakukan gerak kriminal ataupun teror yang berlawanan dengan sila sila pancasila. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan sosial media.

Radikalisme secara umum di era saat ini menyerang berbagai media pendidikan khususnya pesantren dan sosial media yang lahir dari kelompok aliran bahkan guru/ustadz kepada siswa/santri dan dari siswa/santri kepada guru/ustadz dan juga orangtua/masyarakat serta kecanggihan teknologi. Maka dari isu isu tersebut radikalisme dalam hal ini memfokuskan pada pendidikan khususnya pesantren dari pendidikan yang terarah dan memiliki nilai-nilai pancasila akan membuat generasi-generasi penerus bangsa yang berpedoman pada asas-asas kewarganegaraan.

Banyak kita jumpai orang-orang yang berpaham bahwa islam itu radikalisme padhal tidak di dalam Islam mengajrkan dan diajarkan bahwa hidup tenang ,tentram dan damai dengan berbagi macam perbedaan. Orang Islam yang beranggapan semua orang itu kafir kecuali Islam yang satu faham bukan cerminan islam yang cintai damai  dan tidak suka mencampur urusan orang lain dampat disimpulkan urusan agama orang lain yah urusan dia sendiri dengan tuhan nya kita tidak berhak mencaci maki seperti diterangkan dalam Hadits dan Al-Quran, Dalil lainnya ialah Surat Al Isra ayat 36. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al Isra ayat 36)

 

Ayat tersebut mengandung perintah dari Allah SWT untuk tidak mencampuri urusan makhluk ciptaan-Nya. Ini menunjukkan, bahwa di Hari Kiamat kelak, seorang Muslim bertanggungjawab hanya pada setiap anggota tubuhnya. Bukan tubuh orang lain

 

Moderasi beragama merupakan jalan beragama yang berada di jalan tengah sebagai solusi kita dalam menerapkan jalan tengah dan menghentikan sikap sikap radikal. Penanaman dan penerapan moderasi beragama bisa kita terapkan sejak dini untuk menghormati dan menghargai sebagai bentuk toleransi beragama. Sikap plularisme sangat di perlukan tindakan praktik untuk kenyamanan dalam hal ibadah di setiap agama yang di anut di Indonesia.  Sebagaimana yang telah di atur dalam Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pada pasal 29 (ayat 1) dan 29 (ayat 2) yang berisi makna ‘’setiap warga negara mempunyai hak dalam memilih kebebasan beragama yang di percayai dan di yakini di Indonesia’’. Dalam sila pertama pancasila juga menjelaskan arti Sila pertama Pancasila, yaitu ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ memiliki makna bahwa bangsa Indonesia mempunyai kebebasan untuk menganut agama dan menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran agamanya, mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang antar sesama manusia Indonesia, antar bangsa, maupun dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

 

Jalan tengah yang dimaksudkan dalam kehidupan beragama dan berbagsa tidak membedakan ragam budaya, adat, istiadat khusunya pemeluk agama. Orang yang menengahi jalannya diskusi tidak berpihak kepada pendapat manapun, siapapun, dan bersikap adil. Sedangkan agama memiliki makna kepercayaan kepada Tuhan dengan aturan syariat tertentu. Beragama juga bisa di artikan pedoman yang mengatur tata tertib keimanan atau kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan yang maha Esa serta berhubungan dengan sesama manusia serta lingkungannya.

 

Tindakan yang dapat kita ambil untuk menyikapi di tengah-tengah Era Globalisasi sebagai santri dalam segala aspek

Pertama, dengan menghargai perbedaan, seperti menghargai    perbedaan agama dan keyakinan orang lain, hal ini dapat dilakukan dengan cara tidak merendahkan agama orang lain, serta tidak mengekspresikan keyakinan secara berlebihan yang dapat memicu konflik.

Kedua, dengan meningkatkan pemahaman, seperti meningkatkan toleransi, menghindari kesalahpahaman dengan meningkatkan pemahaman tentang agama dan keyakinan orang lain.

Ketiga, dengan mempraktikkan nilai-nilai agama, seperti mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kasih sayang, dan perdamaian.

Keempat, dengan menciptakan dialog, seperti dialog antaragama untuk memperkuat hubungan antar kelompok agama, dalam hal ini setiap pihak diharapkan untuk mendengarkan dan memahami pandangan orang lain, serta mencari solusi yang dapat menguntungkan semua pihak.

Kelima, dengan menjaga sikap tenang dan tidak mudah terprovokasi, seperti dengan bersikap tenang, hal ini dapat membantu menghindari terjadinya konflik dan menjaga hubungan yang harmonis.

Berdasarkan point-point di atas, maka dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama sebagai penghalang radikalisme di era globalisasi  khususnya dunia pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral sejak dini maka dari itu pentingnya menghargai dan menghormati perbedaan yang ada karena dengan menghargai kita akan menerima perbedan dalam segala aspek yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *