Sosialisasi Anti Kekerasan dan Bullying, Kasubdit Kesiswaan KSKK Kemenag Sebut Empat Nilai Pembeda yang Harus Dimiliki Siswa Madrasah

Kab. Jombang (MAN 4) – Dr. Imam Bukhori, M.Pd., Kepala Sub Bagian (Kasubdit) Kesiswaan Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kemenag RI melakukan kunjungan dan pembinaan kepada siswa dan guru MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif pada Sabtu (16/9/23).

Kedatangannya kali ini dalam rangka sosialisasi pencegahan kekerasan dan perundungan di madrasah. Ribuan siswa MAN 4 Jombang mengikuti kegiatan sosialisasi yang digelar di Gedung KH. Hasyim Asy’ary MAN 4 Jombang. Imam Bukhori yang juga alumni dari MAN 4 Jombang jurusan IPS tahun 1993 ini berpesan agar para siswa tidak melakukan kekerasan kepada orang lain.

“Pesan saya, pada kondisi apapun, emosi seruwet apapun, baik di madrasah maupun di asrama, tolong jangan pernah melakukan kekerasan kepada orang lain. Secara syariat, kekerasan ini jelas jadi tuntutan di akhirat. Tolong dihindari, apalagi kekerasan seksual, baik perempuan ke laki-laki atau laki-laki ke perempuan. Tolong sekuat tenaga dihindari.” pesannya.

Bukhori menambahkan, bahwa pedoman penanganan kekerasan seksual di satuan Pendidikan di kementerian Agama telah tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 83 tahun 2023.

“Di KMA 83 tahun 2023 itu ada, bagaimana menindak dan menangani jika terjadi pelecehan seksual. Kami baru saja keluarkan juknis bagaimana aturan untuk cegah kekerasan seksual di madrasah maupun di ponpes.” ungkap Bukhori.

Lebih lanjut Bukhori berpesan jika mengetahui Tindakan kekerasan seksual baik di madrasah maupun di pondok pesantren untuk melaporkan perbuatan tersebut.

“Kalau ada orang yang lebih terhormat melakukan pelecehan seksual dan kekerasan harus berani melaporkan. Mari kita hentikan kekerasan seksual bullying di madrasah ini dengan cara melaporkan itu. Kekerasan itu berantai, karena didiamkan, tidak berani melaporkan masalah, akan diannggap aman-aman saja. Ini masalah. Kalian harus berani laporkan.” tegasnya.

Selanjutnya, Bukhori menyebutkan empat nilai pembeda yang harus dimiliki siswa madrasah, khususnya madrasah yang berada di bawah naungan pondok pesantren seperti MAN 4 Jombang.

“Jadi murid MAN 4 Jombang harus beda dengan siswa yang ada di sekolah. Setidaknya nilai pembedanya ada empat.” ungkap Bukhori.

Ia kemudian menjelaskan nilai-nilai yang menjadi pembeda siswa di sekolah umum dengan siswa di madrasah, terutama madrasah yang berada dalam naungan pondok pesantren seperti MAN 4 Jombang:

1. Siswa madrasah harus lebih baik dari siswa sekolah dari aspek pemahaman keagamaannya

“Kalau sekolah belajar agamanya 2 jam dalam seminggu, sedangkan di madrasah 10 jam. Artinya, lulusan madrasah harus lebih baik daripada anak sekolah dari aspek pemahaman keagamaannya.“ jelasnya.

 

2.Perilaku keagamaan siswa madrasah harus lebih baik dari siswa sekolah

 Perilaku keagamaan yang dimaksud terutama adalah salat. Salat siswa madrasah harus baik dan disiplin karena dengan salat, perilaku manusia akan terkendali.

Inna sholata tanha ‘anil fahsy’i wal munkar. Sesungguhnya salat adalah mencegah fahsya’ (yaitu perbuatan maksiat) dan munkar (perbuatan yang tidak layak / tidak pantas sekalipun tidak tergolong maksiat). Untuk kendalikan dua ini, kuncinya salat.” ungkapnya.

 

3. Akhlak siswa madrasah harus lebih baik dari siswa sekolah

Bukhori menjelaskan nilai-nilai akhlak siswa madrasah yang dikutip dari Kitab Ta’lim Muta’allim.

“Cara berjalannya anak madrasah mesti berbeda dengan cara jalannya anak-anak sekolah. Cara salamannya kepada guru juga berbeda. Salimnya menundukkan kepala, mencium tangan guru pakai hidung. selanjutnya mundur 3 langkah baru berani membelakangi guru.kepada orang tua juga begitu. Itu yang diajarkan dalam Kitab Ta’lim.” jelas Bukhori.

 

4. Siswa madrasah yang berada dalam naungan pondok pesantren harus berbeda dengan siswa madrasah yang tidak berada dalam naungan pondok pesantren.

Dalam hal Ilmu, perilaku, hingga sikap keagamaan, siswa madrasah yang berada dalam naungan pondok pesantren harus berbeda (lebih baik) dengan siswa madrasah yang tidak di pesantren.

“Kebetulan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif yang mendirikan Mbah Yai Bisri Syansuri, pendiri NU. Perilaku santrinya harus berbeda dari pondok lain yang gak didirikan oleh Mbah Bisri. Mbah Bisri kehebatannya adalah berpegang teguh kepada fiqih/syari’at, padahal beliau politikus, tapi beliau tetap berpegang teguh pada prinsip syari’at. Maka perilaku dan cara berpikir kita juga harus punya kelebihan dari santri pondok lain.” imbuhnya.

Selanjutnya Imam Bukhori juga melakukan pembinaan kepada guru dan karyawan MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif di ruang keagamaan lantai 3 Gedung KH. Bisri Syansuri. Ia berpesan kepada para guru untuk senantiasa belajar dan melakukan inovasi.

“Guru yang penting jangan berhenti belajar. Terus bangun rasa ingin tahu. Faktanya, alam ini bertahan bukan karena kekuatan, kebesaran, atau kedigdayaan. Tapi yang bisa bertahan adalah manusia yang bisa menyesuaikan diri dengan tantangan zaman. Siapkan anak-anak kita untuk hadapi tantangan zaman. Anak-anak yang berpikiran kritis.” ajaknya.

Di akhir kunjungannya, ia berpesan kepada para guru dan tenaga kependidikan  untuk memupuk potensi siswa dan menjadikannya kompetensi yang bermanfaat.

“Terakhir, kami titip siswa kita. Madrasah adalah taman. Siswa adalah bunganya. Sedangkan guru adalah tukang taman. Tugas tukang taman tugasnya memupuk bunga, merawat dan menyiraminya. Bukan merubah bunga mawar menjadi melati. Yang terpenting adalah kenali potensi anak, pupuk potensinya agar menjadi kompetensi yang bermanfaat. Entah jadi apapun nanti kelak siswa-siswa kita, nilai-nilai agama dan kesantrian harus tetap mewarnai.” pungkasnya. (hiy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *