SSK (SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN) Sebagai tombak dasar kemajuan revolusi pemuda di era globalisasi dan digital

“Ciri dari generasi Z,berpontesi distraktif perusak,tapi di samping itu juga berpontensi konskruktif pembangun. Tergantung pengaruh mana yang lebih besar”

Seperti yang kita ketahui, bahwa era yang kita hadapi sekarang berevolusi lebih besar. Yang mana bisa berkonsekuensi fatal apabila salah mengartikannya dalam segi pergaulan maupun hubung sekitar lainnya. Seperti yang Pembina SSK, Ibu Djum’atin ungkapkan diatas bahwa kemungkinan kemungkinan 2 potensi tersebut dapat terjadi dan pengaruh yang diberikannya menjadi alasan suatu negara bisa maju untuk berevolusi. Dalam hal ini, MAN 4 Jombang membantu menjawab pertanyaan tersebut dengan mengadakan momentum yang sangat bergengsi dan berkompeten. Yaitu TALKSHOW Kependudukan yang diadakan pada hari Selasa,16 November 2021 untuk para siswi dan Kamis, 18 November 2021 untuk para siswa.

Acara yang diselenggarakan di Gedung Pusat Pembelajaran Terpadu (GPPT) ini, dihadiri sebanyak kurang lebih 325 siswa siswi jurusan IPS, para Kader SSK sebanyak 27 orang serta bapak dan ibu guru integrasi dalam bidangnya. Para siswa dan siswi sangat antusias mengikuti acara TALK SHOW. Terbukti dengan hadirnya seluruh siswa dan siswi yang mengikuti acara dari awal dimulai hingga selesai.

TALK SHOW kali ini mengangkat tema “PEMUDA DALAM PERSIAPAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DALAM UPAYA MERAIH BONUS DEMOGRAFI” yang dinarasumberi oleh Ali Imron, dosen fakultas sosial & hukum, di UNESA .

Lewat acara ini, para siswa dan siswi diharapkan mampu menempatkan dirinya sebagai SDM yang berkualitas dengan pemberian materi dan edukasi serta mengembangkan SSK tingkat dasar menuju tingkat paripurna.

Pemuda menurut Ibu Djum’atin adalah penggerak revolusi yang lebih mampu menciptakan perubahan.

“Bagaimana cara pemuda beradaptasi pada era revolusi dan meraih bonus demografi?”

Secara demografis, negara Indonesia termasuk negara yang menyumbang penduduk dengan angka terbesar. Mayoritasnya adalah para pemuda. Sehingga Indonesia dinamakan sebagai negara yang demografi, yaitu kondisi dimana suatu negara penduduk bermayoritaskan masyarakat berusia produktif (15-45 tahun). Kondisi kependudukan di Jawa Timur sendiri berkomposisi tertinggi sejak tahun 2008.

Kembali menjawab pertanyaan yang terkulas diatas, Ali Imron sebagai narasumber atau bintang tamu mengutip bahwa faktor dari banyaknya penduduk/demografi yang terjadi di Indonesia disebabkan akan besarnya tingkat kelahiran. Hal ini disebabkan oleh besarnya angka dan pesatnya tingkat kelahiran. Lalu, apa hubungan tingkatan tersebut dengan bonus demografi?
Beliau menjelaskan bonus demografi ialah bonus yang bisa dimiliki negara manakala tingkatannya rendah. Tapi, apabila tingkatannya tinggi, maka diharapkan tingkat ketergantungannya rendah(mandiri). Untuk mengantisipasi masalah ini maka negara mengadakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai Human Development atau Pembangunan Manusia yang menyediakan kualitas berupa pendidikan ,kesehatan, serta ekonomi. Di Jawa Timur, IPM tertinggi diraih oleh Surabaya sedangkan terendah di Lamongan. Selain negara, sekolah juga ikut serta berpartisipasi dalam hal mengadakan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang kini kita kenal sebagai program intelektual dan berkembang baik di madrasah. Juga sebagai peran utama remaja dalam kependudukan dan kehidupannya.

Namun, apabila tidak produktif dalam membiyayai penduduk maka akan bergantung pada negara.
Menuju topik pembahasan berikutnya, yakni pemuda generasi Z atau 4.0. Yang mana generasi ini adalah generasi yang berbasis internet dan bersistemkan cyber physical.. Mereka adalah Digital Natives / pribumi di dunia maya.

Sikologis menyatakan bahwa, pemuda memiliki potensi atau kemampuan untuk bisa melakukan perubahan. Siapa yang mempengaruh orde baru? Pemuda. Siapa yang melakukan demonstrasi untuk membela dan menyuarakan rakyat dan maju paling depan dengan bersuara lantang? Pemuda.
Namun, pemuda dalam lensa paradox digambarkan memiliki 2 potensi. Yang pertama, Potensi destruktif/toxic. Potensi ini, terararah pada hal hal negative yang menganggap pemuda bisa menjadi perusak, sumber penyakit. Radikal, dsb. Yang kedua, yaitu potensi konskrukti/tonic. Nah, kalau yang potensi tonic ini terarah pada positivitas seperti kemampuan pemuda dalam pembaharuan yang merupakan kekuatan milenial, senang berperan, dan kalau dalam sejarah pemuda disebutkan sebagai suatu agen perubahan ( Agent of change) dimana mengharapkan gerakan gerakan yang berasal dari para pemuda.

“Ternyata bagi pemuda berkumpul itu lebih utama. Bahwa kekompakan dan solidaritas itu prioritas” ungkap beliau.”

Kehadiran teknologi digital mengakibatkan adanya transformasi social dan ekonomi dalam produksi, komunikasi, konsumsi dan gaya kehidupan bermasyarakat. Di dunia maya, kita menghadapi bermacam unsur kompetensi dan problematika digital. Salah satunya adalah hoax. Dalam SSK para siwa /sisiwi dibekali ilmu softskill yang salah satunya adalah berpemikiran lebih kritis. Yang berarti kemampuan untuk memfilter atupun menjaga dirinya agar tidak terkena pengaruh Destruktif/negativitas. Selain itu juga menempatkan diri pada lingkungan yang positif. Karena lingkungan sekitar juga menjadi pengaruh dan alasan suatu kembang didik.

“Apakah negara itu bisa maju karena dilihat dari pemudanya saja?”

Dikatakan negara maju apabila ada indikator yaitu SDMnya harus kuat dan berkualitas, pendapatan perkapital negaranya harus tinggi, dan tingkat kelahiran harus rendah, tutur bu Djum’ati. Dan cara untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia adalah dengan memberikan pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan yang paling utama adalah edukasi bermoral (akhlakul karimah).

Untuk mengurangi masalah SDM selain pemberian edukasi, juga diupayakan ber-KB(Keluarga Berencana) bagi Pasangan Usia Subur (PUS). Bisa berjalannya KB tatkala usia remaja menjadi PUS sudah dilandasi oleh ilmu kepndudukan. Sehingga, sudah bisa memberi keputusan matang ketika menjadi ibu atau ayah muda. Otomatis akan membantu pemerintahan dalam mengurangi angka kelahiran. Dan mempermudah dalam mencapai suatu negara berevolusi yang ber SDM maju.

Namun nilai kependudukan tidak bisa lepas dari kesadaran masyarakat itu sendiri. Dan SSK hadir sebagai tombak dasar yang menyadarkan masyarakat untuk peduli akan dampak yang dapat disebabkan dari tingkat suatu kelahiran untuk SDM yang ingin berevolusi. Dengan dasar kependudukan.
Maka, dasar kemajuan dipacu oleh pemuda yang memiliki SDM berkualitas dalam segi kependudukan.

Contributor: tim jurnalistik
Diliput oleh;nabila,simud,acha,indy &nazila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *