Tanamkan Karakter Moderat Kepada Siswa, MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif Gelar Dialog Interaktif Bersama Tokoh Lintas Agama Ngepeh

Kab. Jombang  (MAN 4) – Fika Barirothul Mustaghfiroh, siswi MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif yang menjadi Duta Inisiator Muda Moderasi Beragama (IMMB) Madrasah 2023 menggelar aksi dialog interaktif bersama tokoh agamawan Desa Ngepeh, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang pada Rabu (13/09/23).

Bertempat di ruang Keagamaan lantai 3 Gedung KH. Bisri Syansuri, Dialog interaktif menghadirkan 3 tokoh agama Desa Ngepeh, mulai dari Islam, Kristen, hingga Hindu. Fika secara khusus memilih Ngepeh karena daerah ini terkenal dengan toleransi keagamaannya yang baik.

Ngepeh dihuni sekitar 1.500 jiwa. Mayoritas masyarakat memeluk Islam, 80 jiwa pemeluk Kristen dan 60 jiwa pemeluk Hindu.

“Bahkan letak gereja dan pura berdekatan, sekitar 20 meter.” ungkap pendeta Kristen Ngepeh, Arismonte saat menguraikan potret moderasi di Ngepeh.

Meski demikian, lanjut Arismonte, masyarakat Ngepeh tidak ada yang merasa terganggu. Tidak ada yang mengungkit perbedaan keyakinan, atahu bahkan berselisih karena beda agama.

Senada dengan Arismonte, Pranutik selaku tokoh Agama Hindu sekaligus pemangku Pura Amerta Buana Ngepeh juga menjabarkan suasana kerukunan di Ngepeh terutama pada momen-momen kegiatan keagamaan yang membutuhkan pengeras suara.

“Ketika kami (Hindu) dan gereja sama-sama mengadakan kegiatan yang melibatkan sound, kita bisa saling memahami, sudah otomatis itu. Kita ga usah menegur atahu ditegur.” ungkapnya.

Sementara itu, David Saifullah selaku tokoh agama Islam Ngepeh mengungkapkan bahwa justru kegiatan Islam yang paling banyak menggunakan pengeras suara.

“Sebenarnya yang paling berisik itu ya dari kita (Islam). Mohon maaf, sehari aja 5 kali. Alhamdulillah saudara-saudara kita memahami.” ungkap David.

 

Mencontoh Kerukunan Tiga Agama di Ngepeh

David berpesan kepada 72 siswa MAN 4 Jombang yang menjadi peserta dialog interaktif untuk menyiapkan diri agar kelak ketika terjun ke masyarakat bisa menerima keberagaman yang ada.

“Siapkan. Sampean semua nanti bakale ketemu hal-hal yang berbeda di masyarakat. Nah, kita di sini bisa menjadi contoh dari wujud keberagaman itu.” pesannya

“Yang pasti saya sangat berterima kasih kepada saudara-saudara kita ini (pemeluk Kristen dan Hindu di Ngepeh) karena sebenarnya yang paling nakal (berisik) itu ya dari orang Islam sendiri.” ungkapnya.

Lebih lanjut, David pun mengungkapkan ada saat tertentu ketika kerukunan dan toleransi itu begitu terasa di Ngepeh. Seperti contoh mematikan pengeras suara selama perayaan Nyepi.

“Jadi kalau Nyepi itu, kan 24 jam itu puasanya. Jadi ya kami yang Islam, misal waktunya tahlilan ya gak pakai sound dulu.” ungkapnya.

Lebih lanjut, David juga menceritakan saat takbir keliling menjelang hari raya idul fitri yang tak hanya diikuti masyarakat muslim saja. Tetapi juga diikuti oleh penganut Hindu dan Kristen.

Cerita serupa juga disampaikan Arismonte selaku pendeta di Ngepeh. Ia mengungkap bahwa masyarakat Ngepeh akan saling membantu mengamankan perayaan agama satu sama lain.

“Misal kita pas merayakan natal, maka orang-orang Islam itu yang akan berjaga di depan gereja. Menata parkir, dan lain sebagainya.” jelas Monte.

Di momen lain seperti perayaan idul fitri, Arisemonte mengungkap bahwa masyarakat Ngepeh yang beragama Islam juga turut melakukan anjangsana ke rumahnya.

“Saat idul fitri, umat muslim banyak yang datang ke rumah saya. Itu yang membuat saya terharu sekaligus Bahagia.” ungkapnya.

 

Memupuk Kerukunan dengan tetap menjaga Batasan masing-masing

Menurut Pemangku Pranutik, kerukunan dan sikap toleransi masyarakat Ngepeh tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan sudah berlangsung lama sejak zaman nenek moyang mereka.

Baginya, untuk menjadi rukun, perlu adanya rasa kemanusiaan yang tinggi. Menurutnya, dalam bermasyarakat, tidak perlu memandang apa agamanya. Tetapi memandang semua sebagai sesama ciptaan Tuhan.

“Ibarat sebuah air dalam botol yang akan disatukan dalam lautan, maka kita harus melepas tutupnya agar air itu bisa bercampur di lautan. Begitu pula dalam bermasyarakat, kita lepaskan semua atribut yang membuat kita berbeda, termasuk agama. Agar kita bisa berbaur dan bermasyarakat.” terangnya.

Senada dengan Pranutik, Pendeta Arismonte juga mengungkapkan bahwa kerukunan dapat terjadi apabila setiap masyarakat bisa membangun hubungan sosial kemanusiaan dan kemasyarakatan.

“Hubungan kemasyarakatan ini perlu dijaga. Seperti saling tolong menolong. Sehingga terjadilah kerukunan antar umat beragama seperti kami di Ngepeh.” jelasnya.

Sementara itu, Modin David menguraikan bahwa masyarakat Ngepeh sudah memahami batasan agama masing-masing.

“Perlu digarisbawahi, kita di Ngepeh itu bukan agama yang jadi satu, tapi menyatukan pemeluk agama. Untuk jadi satu dan rukun, maka harus tahu batasannya. Agar tidak terjadi konflik.” Jelasnya.

Menurutnya, para tokoh agama Ngepeh seringkali berpesan untuk saling menghargai dalam hal sekecil apapun.

“Karena konflik itu terjadi dari rak-riak kecil yang menyambar tempat yang kering.  Tempat kering itu diibaratkan orang yang kurang pemahaman iman dari masing-masing agama. Maka akan cepat tersulut.” terangnya.

Ia memberi contoh ketika pelaksanaan penyembelihan hewan qurban, umat Hindu yang tidak diperbolehkan memakan daging sapi, akan diberi daging kambing.

“Enak kalau tahu batasan masing-masing. Kalau tahu umat Islam tidak boleh dekat-dekat dengan anjing, maka dengan sendirinya anjingnya ditaleni. Pun begitu saat bercanda. Bercanda ya bercanda, tapi harus tahu batasan masing-masing sehingga kita bisa berkumpul dan bersatu.” pungkasnya. (hiy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *