Workshop Model Pembelajaran Cooperative Learning Tingkatkan Mutu Pendidikan Melalui Guru Mapel PAI dan Bahasa Arab MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif

Kab. Jombang (MAN 4) – MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif gelar workshop model pembelajaran cooperative learning bagi guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab di MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif. Diikuti 31 guru, workshop berlangsung selama dua hari, mulai Sabtu (15/7) hingga Minggu (16/7) di Gedung KH. Hasyim Asy’ari lantai 3 MAN 4 Jombang.

Bertindak sebagai pemateri, Koordinator Bidang Pendidikan Yayasan Mamba’ul Ma’arif sekaligus pengasuh Asrama Nur Khodijah 3 PP. Mamba’ul Ma’arif , Dra. Hj. Muniroh Iskandar dan dosen Universitas Pesantren tinggi Darul Ulum Jombang, Dr. Dhikrul Hakim, M.Pd.I.

Wakil kepala bidang kesiswaan Muhammad Makin saat pembukaan workshop mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda madrasah untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran melalui inovasi guru dalam mengelola pembelajaran.

“Kami khususkan workshop ini untuk Bapak Ibu guru mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab karena mapel tersebut merupakan ciri khas madrasah.” ungkap Makin.

Dra. Hj. Muniroh Iskandar sebagai pemateri pertama mengatakan bahwa model pembelajaraan cooperative learning juga telah banyak diterapkan dalam Islam.

“Model pembelajaran cooperative learning ini memang dari Barat, penggagasnya juga orang-orang Barat. Kemudian dikembangkan di berbagai negara termasuk di Indonesia. Sehingga kita sebagai umat muslim, maka kita perlu cari dasar dari agama kita.” terangnya.

Bu Nyai Muniroh pun mencontohkan cara pengajaran Nabi Ibrahim kepada Nabi ismail dan cara pengajaran Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

“Dalam Alquran pada saat Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih Ismail, niku nggih mboten semena-mena digowo trus disembelih. Tapi kalimate dos pundi?” tanya Bu Nyai muniroh kepada peserta.

Pertanyaan Bu Nyai muniroh selanjutnya dijawab oleh salah satu peserta workshop, Ahmad Muzakki.

Ya bunayya inni araa fil manaami annii adzbahuka fandzur maadzaa taraa (Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?),” jawab Zaki.

Bu Nyai Muniroh membenarkan dan menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan bentuk dari pembelajaran kooperatif, yakni berdialog dan berkolaborasi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

“kalo cooperative itu mboten kulo tok sing ngomong, tapi Njenengan nggih ngendikan.” terangnya.

Begitu juga pembelajaran yang dilakukan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad. Bu Nyai Muniroh mencontohkan riwayat yang dikutip dari hadits Arba’in Nawawi. Pada hadits kedua dijelaskan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dalam wujud manusia dan menanyakan tentang Islam, iman, dan ihsan. Ketika itu, Nabi tengah berkumpul bersama dengan para sahabat. Setelah Nabi menjawab pertanyaan, Malaikat jibril pun menjawab dengan berkata “shodaqta (benar)”, sehingga membuat para sahabat heran, karena yang bertanya tapi ia juga yang membenarkannya. Kamudian Nabi menjelaskan bahwa Ia merupakan Malaikat Jibril yang sedang memberi pembelajaran.

Pada akhir materi, bu Nyai Muniroh menjelaskan bahwa pembelajaran yang mengajak murid aktif dalam berdiskusi dalam mencapai tujuan pembelajaran merupakan inti dari model pembelajaran cooperative learning.

Dr. Dhikrul Hakim, M.Pd.I. sebagai pemateri kedua juga menerangkan bahwa model pembelajaran cooperatif learning merupakan pembelajaran yang menuntut siswa untuk bersosial.

“Model cooperative intinya siswa-siswi kita diajak untuk bersosial. Diajari tidak urip ijen. Intinya ada pemanfaatan kelompok. Dadi lek onok cooperative kok ijen-ijen, itu bukan cooperative.” ungkap Dhikrul.

Ia menjelaskan bahwa model pembelajaran cooperative learning merupakan model pembelajaran yang tidak berpusat pada guru. Tetapi melibatkan semua siswa dalam proses belajar. Semua siswa diajak untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

“Tapi murid harus diterangkan dulu, tunjuan pembelajarannya apa, sintaknya bagaimana.” terangnya.

Di akhir materi, Dhikrul Hakim menyampaikan tips dan trik dalam mengembangkan proses pembelajaran yang interaktif berbasis teknologi. mulai dari cara cepat membuat powerpoint, modul, hingga penulisan jurnal.

“Semuanya akan mudah, yang penting tau carane.” tandasnya. (hiy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *