Ternyata Kiblat Bukan Tepat ke Barat, Murid MAN 4 Jombang Pelajari Lewat Rashdul Kiblat
Pembina dan murid MAN 4 Jombang melakukan praktik pengukuran arah kiblat melalui metode Rashdul Kiblat
Kab. Jombang (MAN 4) - Upaya memperkuat literasi ilmu falak di MAN 4 Jombang PP. Mamba'ul Ma'arif Denanyar, terus digalakkan. Kali ini, MAN 4 Jombang menggelar pelatihan Rashdul Kiblat sebagai bentuk dukungan terhadap "Indonesia Berkiblat: Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Kiblat" yang diinisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 15–16 Juli 2026 dan diikuti murid putra melalui pembelajaran teori sekaligus praktik penentuan arah kiblat berbasis perhitungan astronomi.
Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi. Hari pertama difokuskan pada pemahaman konsep dan perhitungan arah kiblat, sedangkan hari kedua diisi dengan praktik lapangan memanfaatkan fenomena Rashdul Kiblat pada pukul 16.47 WIB, saat posisi Matahari digunakan sebagai acuan untuk memverifikasi arah kiblat secara ilmiah.
Pembina kegiatan sekaligus Pembina Ekstrakurikuler Ilmu Falak MAN 4 Jombang, Zainuddin, menjelaskan bahwa peserta diajak memahami proses penentuan arah kiblat mulai dari dasar-dasar astronomi hingga penerapannya di lapangan.
"Pada sesi pertama, anak-anak belajar menentukan data lintang dan bujur lokasi Jombang serta Kota Makkah, menghitung selisih bujur, kemudian melakukan perhitungan arah kiblat sesuai rumus yang berlaku dalam ilmu falak," ujarnya, Kamis (16/07).
Setelah menyelesaikan tahap perhitungan, peserta melakukan pengukuran menggunakan sejumlah alat sederhana, seperti mizwala, benang, penggaris, dan perlengkapan lainnya. Seluruh alat tersebut digunakan untuk menguji hasil perhitungan arah kiblat melalui metode Rashdul Kiblat yang telah dipelajari sehari sebelumnya.
Menurut Zainuddin, metode ini menunjukkan bahwa penentuan arah kiblat bukan sekadar menghadap ke arah barat, tetapi memerlukan ketelitian berdasarkan data astronomi.
"Hasil pelatihan menunjukkan antusiasme anak-anak sangat tinggi. Ini menjadi bekal penting agar mereka mampu menerapkan metode Rashdul Kiblat di lingkungan masing-masing. Harapan kami, ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan," katanya.
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan selama pelatihan, arah kiblat wilayah Denanyar, Jombang, berada pada posisi 24°12'32,85" dari arah barat menuju utara, atau 294°12'32,85" apabila dihitung dari arah utara searah jarum jam.
Sementara itu, waktu Rashdul Kiblat atau posisi bayang-bayang yang mengarah ke kiblat diperoleh pada pukul 16.27 WIB.
Zainuddin menjelaskan, secara astronomis wilayah Jombang berada di sekitar 7°32' Lintang Selatan, sedangkan Kota Makkah berada di 21°25' Lintang Utara. Dari sisi garis bujur, Jombang berada di 112°13' Bujur Timur, sementara Makkah berada di 39°50' Bujur Timur.
Perbedaan posisi tersebut menyebabkan arah kiblat di Jombang tidak tepat mengarah ke barat, melainkan bergeser sekitar 24 derajat ke arah utara dari titik barat.
"Banyak masyarakat mengira kiblat cukup menghadap ke arah barat. Padahal, berdasarkan posisi astronomis Jombang terhadap Makkah, arah kiblat sebenarnya bergeser sekitar 24 derajat ke arah utara dari titik barat. Itulah mengapa diperlukan perhitungan dan pengukuran agar arah kiblat benar-benar akurat," kata Zainuddin.
Melalui kegiatan ini, MAN 4 Jombang tidak hanya mendukung Gerakan Nasional 1.448K Rashdul Kiblat yang digagas Kementerian Agama RI, tetapi juga membekali murid dengan kemampuan menentukan arah kiblat secara mandiri berdasarkan pendekatan ilmiah.
Pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi bekal yang bermanfaat ketika kembali ke lingkungan masyarakat dan berkontribusi dalam memastikan ketepatan arah kiblat di masjid maupun musholla. (Hed)