422 Murid MAN 4 Jombang Ikuti Seminar Personal Branding dan Anti Kekerasan
Foto bersama narasumber dan panitia Seminar Anti Kekerasan Kelas X MAN 4 Jombang di Gedung KH. Hasyim Asy’ari, Selasa (19/05/2026).
Kab. Jombang (MAN 4) - MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif menggelar seminar anti kekerasan bertema “Generasi Hebat dengan Personal Branding Positif dan Anti Kekerasan” di Gedung KH. Hasyim Asy’ari pada Selasa (19/05/2026). Seminar tersebut diikuti 422 murid kelas X dengan menghadirkan narasumber Nur Ulwiyah yang juga dosen UNIPDU Jombang.
Dalam seminar tersebut, Nur Ulwiyah menyampaikan materi tentang pentingnya personal branding positif bagi generasi muda serta penguatan moderasi beragama dan sikap anti kekerasan di lingkungan pendidikan.
“Personal branding adalah bagaimana seseorang dikenal melalui sikap, karakter, dan kebiasaan baik yang ditunjukkan kepada orang lain,” kata Nur Ulwiyah.
Nur Ulwiyah menuturkan, generasi muda perlu membangun citra diri yang positif melalui perilaku, etika, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan sosial maupun digital.
Selain itu, ia juga memaparkan sembilan nilai moderasi beragama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni tawassuth (jalan tengah), tawazun (seimbang), i’tidal (adil), tasamuh (toleransi), musawah (persamaan), syura (musyawarah), ishlah (perbaikan), aulawiyah (mendahulukan prioritas), serta tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif).
Menurut Nur Ulwiyah, nilai tawassuth penting diterapkan agar murid tidak bersikap berlebihan dalam menghadapi perbedaan.
“Tawassuth mengajarkan kita untuk bersikap di tengah dan tidak berlebihan dalam menyikapi perbedaan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya nilai tasamuh atau toleransi dalam kehidupan bermasyarakat dan lingkungan sekolah.
“Nilai tasamuh atau toleransi penting diterapkan agar kita mampu menghargai perbedaan pendapat maupun latar belakang orang lain,” katanya.
Selain itu, Nur Ulwiyah menjelaskan bahwa musyawarah atau syura menjadi salah satu cara terbaik dalam menyelesaikan persoalan secara damai.
“Musyawarah atau syura menjadi cara terbaik dalam menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan konflik,” tuturnya.
Ia juga mengajak murid memahami nilai aulawiyah sebagai sikap mendahulukan hal yang lebih penting dan bermanfaat.
“Aulawiyah mengajarkan kita untuk mendahulukan hal-hal yang lebih penting dan bermanfaat,” jelasnya.
Sementara itu, nilai tathawwur wa ibtikar dinilai penting agar generasi muda mampu berkembang dan berinovasi mengikuti perkembangan zaman.
“Tathawwur wa ibtikar berarti kita harus terus berkembang, inovatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” pungkasnya.
Dalam seminar tersebut, Nur Ulwiyah juga menekankan pentingnya sikap anti kekerasan sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan.
“Anti kekerasan berarti menolak segala bentuk tindakan yang merugikan orang lain dan mengedepankan penyelesaian masalah secara damai dan manusiawi,” ujarnya. (hir)
