Hadirkan Aktor ‘Jejak Langkah Dua Ulama’, Workshop Gelora Aksara Cetak Penulis Muda MAN 4 Jombang
Aktor Jejak Langkah Dua Ulama berfoto bersama peserta Workshop Gelora Aksara MAN 4 Jombang usai sesi inspiratif
Kab. Jombang (MAN) - Perpustakaan MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif sukses menggelar workshop kepenulisan karya sastra bertajuk “Gelora Aksara” pada Kamis (30/04). Mengusung tema "Membangun Aksara, Membangun Peradaban", acara yang berkolaborasi dengan MAN 1 Jombang ini bertempat di Gedung KH. Bishri Syansuri Lantai 3, MAN 4 Jombang.
Workshop kali ini menghadirkan narasumber multitalenta, Moh. Qowiyuddin Shofi, seorang pendidik, editor buku, sekaligus aktor film Jejak Langkah Dua Ulama, untuk membekali para murid teknik menulis kreatif puisi, cerpen, hingga pentigraf.
Membuka acara, Moh. Qowiyuddin Shofi mengutip pesan dari Imam Ghazali, ia menyampaikan, "Apabila kamu bukan anak raja dan engkau bukan ulama besar, maka jadilah penulis."
Menurutnya, menulis adalah cara paling nyata untuk memperkenalkan diri kepada dunia sekaligus mengabadikan eksistensi manusia.
"Sastra itu tempat kamu memerdekakan diri dari batasan-batasan ilmiah. Menulis adalah kemerdekaan perasaan dan cara paling sunyi untuk membebaskan apa yang tak sanggup diucapkan, lalu menjadikannya hidup di atas kertas," tegasnya.
Ia menekankan bahwa tulisan bagus hanyalah bonus dari kebiasaan menulis.
"Semakin banyak kamu tahu teori, semakin besar kamu akan takut menulis. Padahal, cara menulis itu hanya tiga: menulis, menulis, dan menulis. Menulislah dengan bebas, secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Ingat, tulisan bagus sebenarnya adalah tulisan 'jelek' yang berani di-publish," tambahnya, mengutip gaya John Steinbeck dan Stephen King.
Dalam sesi tanya jawab, Moh. Qowiyuddin Shofi juga menekankan pentingnya menghidupkan nyawa dalam setiap karya, terutama puisi.
“Membaca puisi itu tidak harus dengan suara bulat, tetapi bagaimana cara kita menghidupkan nyawa puisi itu sendiri. Bisa dengan gaya yang dipanjangkan, patah-patah, atau satu napas satu kalimat,” ujarnya.
Ia menyoroti kesalahan umum penulis pemula yang sering terjebak dalam pengecekan berulang atau ketakutan dalam mengakhiri tulisan. Setiap karya memiliki keunikan karena lahir dari pemikiran berbeda.
“Tidak usah mencemaskan kualitas karya di awal. Kelak saat kalian menjadi penulis besar, orang-orang akan menganggap karya awal tersebut sebagai sebuah masterpiece,” tambah pengajar di SMPN 3 Jombang tersebut.
Sebelumnya, Pak Qowiy panggilan akrabnya, membedah teknik penulisan cerpen dan memperkenalkan metode Pentigraf (Cerpen Tiga Paragraf) sebagai sarana latihan bagi pemula. Strategi ini dimaksudkan agar murid mampu meramu konflik yang padat tanpa harus menggunakan tokoh yang terlalu banyak.
“Dengan memulai dari ide sederhana dan berani mengeksekusi kerangka menjadi narasi, perayaan atas ide dan pikiran ini dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan karya autentik,” pungkasnya.
Kerjasama antara perpustakaan MAN 4 dan MAN 1 Jombang ini pun mendapat apresiasi tinggi karena berhasil menyatukan visi dalam meningkatkan minat baca-tulis di lingkungan madrasah. (hir)
