Tanamkan Toleransi, 488 Murid MAN 4 Jombang Ikuti Seminar Moderasi Beragama
Peserta seminar moderasi beragama MAN 4 Jombang bersama narasumber dan guru berfoto bersama usai kegiatan di GPPT, Sabtu (23/5/2026).
KAB. JOMBANG (MAN 4) - Sebanyak 488 murid kelas XI MAN 4 Jombang PP. Mamba’ul Ma’arif mengikuti seminar moderasi beragama pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan digelar untuk menyoroti pentingnya sikap toleran, bijak dalam menyikapi perbedaan, serta menjauhi fanatisme dan ekstremisme di lingkungan pelajar.
Seminar tersebut menghadirkan Agen Moderasi Beragama Kantor Kemenag Kabupaten Jombang, Dwi Aniyatul Lu'luil Maknun.
Dalam pemaparannya, Dwi menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan sikap tengah dalam kehidupan beragama yang menekankan nilai toleransi, keseimbangan, serta menghargai perbedaan.
Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari cara menyikapi perbedaan pendapat secara bijak, bahaya fanatisme, etika bermedia sosial, hingga teladan Rasulullah SAW dalam membangun kehidupan yang damai. Menurutnya, pemahaman ini sangat penting ditanamkan sejak dini.
“Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi bagaimana kita mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip agama,” ujar Dwi saat menyampaikan materi di Jombang, Sabtu (23/5/2026).
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta tampak antusias melontarkan pertanyaan. Salah satunya Najla, yang menanyakan terkait hukum mendoakan masyarakat non-Islam.
Merespons pertanyaan tersebut, Dwi menjelaskan bahwa mendoakan non-Islam diperbolehkan selama menyangkut urusan kebaikan duniawi, seperti kesehatan, keselamatan, rezeki, maupun hidayah.
Ia kemudian mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW dahulu pernah mendoakan kaum yang belum beriman agar mendapat petunjuk, termasuk mendoakan sang paman yang berjuang untuk Islam.
“Namun, untuk orang yang meninggal dalam keadaan tidak beriman, para ulama menjelaskan tidak diperbolehkan memohonkan ampunan atas kekafirannya,” jelasnya.
Selain masalah doa, seminar ini juga membedah fenomena organisasi yang bersikap fanatik. Dwi menegaskan bahwa sikap fanatik yang berlebihan sangat tidak dianjurkan di dalam Islam.
“Mencintai organisasi boleh, tetapi jangan sampai merasa paling benar sendiri, merendahkan kelompok lain, atau menimbulkan perpecahan. Islam mengajarkan sikap tawasuth atau moderat,” beber Dwi.
Lebih lanjut, ia mengimbau para pelajar untuk selalu terbuka dan bijak saat menghadapi perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Perbedaan, menurutnya, adalah hal yang wajar dan harus disikapi dengan kepala dingin.
“Sikap terbaik adalah menghargai, mendengarkan dengan baik, dan tidak mudah menyalahkan. Dalam Islam ada adab berdiskusi, yakni berbicara santun dan tetap menjaga persaudaraan meskipun berbeda pendapat,” tuturnya. (hir)
